• 10May
    Categories: Berita Comments: 0

    Negeri kita masih membutuhkan banyak sekali tenaga ahli konstruksi bersertifikat, demi terwujudnya usaha jasa konstruksi nasional yang profesional, efisien, dan berdaya saing di pasar nasional maupun internasional. Selain itu, sebagai salah satu sektor ekonomi, usaha jasa kontruksi diharapkan dapat berkembang pesat, sehingga perekonomian nasional dapat bertumbuh sehat, demi kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Sebagai salah satu elemen dalam sektor usaha jasa konstruksi, maka kualitas tenaga kerja di sektor jasa konstruksi perlu ditingkatkan, yang dapat diwujudkan melalui pelatihan dan sertifikasi.

    PATI, asosiasi profesi yang sudah berusia tua (baca : 23 tahun) menyadari pembinaan tenaga kerja bidang teknik menjadi salah satu tugas yang harus dilaksanakan, sebagai wujud kontribusi positif bagi kemajuan bangsa. Tanggung jawab itu diwujudkan PATI melalui pelaksanaan pelatihan dan sertifikasi bagi tenaga teknik bidang jasa konstruksi. Khusus untuk keahlian, selama ini PATI hanya dapat melaksanakan pelatihan dan sertifikasi untuk subbidang Teknik Sipil, Struktur, Transportasi, dan Elektronika & Telekomunikasi. Karena desakan dari para ahli teknik untuk subbidang lainnya, maka PATI mengajukan permohonan akreditasi ke LPJK Nasional. Setelah melewati proses pembahasan yang panjang, permohonan akreditasi PATI disetujui PATI, sesuai SK Dewan Pengurus LPJK Nasional No. 61/KPTS/LPJK/D/VI/2008. Sebanyak sembilan subbidang keahlian yang disetujui, yaitu Arsitek, Lansekap, Sumber Daya Air, Teknik Mesin, Tata Udara dan Refigerasi, Transportasi dalam Gedung, Sistem Plambing, Teknik Tenaga Listrik, dan Teknik Lingkungan. Dengan adanya tambahan subbidang ini, maka PATI sudah dapat melaksanakan sertifikasi untuk semua bidang, dan hampir semua subbidang.

    Sebagai salah satu perangkat untuk pelaksanaan sertifikasi, asesor yang melaksanakan sertifikasi perlu dipersiapkan. Guna kelancaran pelaksanaan sertifikasi keahlian untuk subbidang baru, Lembaga Sertifikasi PATI (LS PATI) mengadakan Pelatihan Asesor Tenaga Ahli, pada tanggal 12 Juli 2008, bertempat di Hotel Oasis Amir Senen Jakarta Pusat. Asesor yang diundang sebanyak 56 orang, namun yang dapat hadir sebanyak 42 orang. Acara diadakan dari pagi, jam 09.00 Wib hingga petang hari (17.00 Wib).

    Dalam sambutannya pada acara pembukaan, Ketua LS PATI Ir. Timbul Sinaga menguraikan tentang proses sertifikasi keahlian PATI. Dalam uraiannya, Ir. Timbul Sinaga menyampaikan, pihaknya sudah diminta di berbagai daerah untuk melaksanakan sertifikasi untuk subbidang baru. “Banyak permintaan dari daerah, supaya segera dilaksanakan sertifikasi bagi anggota di daerahnya. Namun karena banyak hal yang masih perlu dipersiapkan, maka kami masih menunda, sampai kita benar-benar siap,” ujarnya. Kepada para asesor, Ir. Timbul Sinaga menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya. “Kami menyampaikan terima kasih atas kehadiran Bapak dan Ibu, tolong bantu kami untuk mensukseskan sertifikasi di seluruh wilayah,” ujarnya.

    Ketua Umum PP PATI yang diwakili Sekretaris Jenderal PP PATI Dr. Ir. Vincent T. Radja, M.Sc.GE yang didaulat untuk membuka acara, menekankan agar para assor dapat membantu PATI melaksanakan sertifikasi di seluruh wilayah Indonesia. “Saya kenal beberapa diantara Bapak Bapak yang hadir hari ini, sehingga saya semakin yakin bahwa sertifikasi ini akan berjalan lancar nantinya,” ujarnya.

    Hingga petang hari, para peserta terlihat serius mengikuti pelatihan. Pada saat simulasi asesmen, para peserta berbagi peran, ada yang jadi peserta uji (asesi), penguji (asesor), dan pengawas. Simulasi ini diharapkan dapat lebih mempersiapkan para asesor dalam melaksanakan tugasnya. Sebelumnya para instruktur sudah memberikan materi pelatihan, yang fokus pada metode asesmen, dengan empat instruktur, yaitu Dr. Ir. Richard Napitupulu, MT, Ir. Achmad Sukardjo Razak, Ir. Firman, dan Budi Marpaung, ST., MT. Acara pelatihan dilanjutkan dengan syukuran akreditasi sekaligus perayaan ulang tahun PATI yang ke XXIII, semenjak jam 19.00 Wib hingga 22.00 Wib, dengan acara makan malam dan hiburan. (Budi M).

  • 10May
    Categories: Berita Comments: 0

    Tim Surveilance dipimpin Mohammad Singgih, beranggotakan Tjipto Koesumo, didampingi staf Bapel LPJK Nasional, Eka Yulianti, dan Wiwien Widhyaswati. Namun karena satu dan lain hal, anggota tim lainnya, H.R. Sidjabat berhalangan hadir.

    Rombongan Tim Surveilance KAA Profesi LPJK Nasional diterima Ketua BSA PATI Ir. Timbul Sinaga, Sekjen PP PATI Dr. Ir. Vincent T. Radja, M.ScGE Sekretaris BSA PATI Ir. Achmad Sukardjo Razak, Koordinator Program BSA PATI Budi Marpaung, ST., MT, Dewan Ahli Teknik PATI yang sekaligus PW PATI Propinsi Sulawesi Selatan Prof. Dr. Ir. M. Arief, Koordinator Asesor BSA PATI Ir. Firman, Penanggungjawab Bidang Tata Lingkungan BSA PATI Prof. Dr. Ir. Amos Neolaka, M.Pd, Pengelola Database BSA PATI Ckolib Wibowo dan Oktafian Kusumo Nugroho Suwarno, ST, dan Sekretaris PW PATI Propinsi DKI Jakarta. Turut hadir anggota KAA Profesi LPJK Nasional yang berasal dari PATI Dr. Ir. Richard Napitupulu, MT.

    Dalam sambutan pengantar, Richard Napitupulu menyampaikan terima kasih atas kehadiran Tim Surveilance KAA Profesi LPJK Nasional. “Mungkin dengan acara seperti Inilah, Bapak dan Ibu dapat berkunjung ke tempat kami.

    Mudah-mudahan Bapak dan Ibu bisa merasa nyaman selama di sini, dan tentunya tujuan kunjungan ini dapat tercapai,” ujarnya. Pendapat senada disampaikan Timbul Sinaga. “Terima kasih atas kehadiran Bapak dan Ibu. Mungkin nantinya ada kekurangan, mohon kami diberikan saran demi peningkatan kualitas pelayanan sertifikasi di PATI,” ujarnya.

    Ketua Tim Survey Mohammad Singgih mengucapkan terima kasih atas sambutan yang manis dari PATI. “Terus terang pak, ruangan PATI ini luas dan sejuk. Dengan fasilitas yang sedemikian nyaman, tentunya sertifikasi di sini dapat berkualitas,” ujarnya. Selanjutnya Muhammad Singgih menuturkan, maksud kunjungan LPJK Nasional adalah untuk mengumpulkan data dan memberikan masukan demi peningkatan kualitas sertifikasi keahlian di PATI. “Kami datang bukan untuk memvonis atau mengambil keputusan, namun hanya sebatas mengumpulkan informasi sekaligus memberikan masukan demi kebaikan sertifikasi keahlian oleh PATI,” ujarnya.

    Selama kunjungan, Tim Survey LPJK Nasional menanyakan sejumlah hal terkait sertifikasi, dan meminta dokumen pendukung yang dibutuhkan. Selain itu, Tim Surveilance juga melakukan sampling terhadap berkas pemohon, dengan tujuan untuk memeriksa kelengkapan administrasi proses asesmen. “Umumnya berkasnya baik, namun ada satu dua hal yang perlu dilengkapi, supaya lebih baik lagi,” ujarnya. Ir. Timbul Sinaga pada akhir kunjungan, menyampaikan terima kasih atas masukan dari Tim Survei LPJK Nasional. “Semua masukan yang Bapak dan Ibu sampaikan sangat berharga bagi kami. Kami akan perbaiki sesuai dengan permintaan LPJK Nasional,” ujarnya. (Tim)

  • 10May
    Categories: Berita Comments: 0

    Lokakarya Penyusunan Naskah Akademik Rancangan Undang-undang Arsitek yang diprakarsai oleh asosiasi profesi Ikatan Arsitek Indonesia dilaksanakan di Bali, bertempat di Inna Sindhu Beach Hotel Sanur Bali pada tanggal 24 Juli 2008. Acara tersebut dibuka secara resmi oleh Direktorat Jenderal Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum Pusat mewakili Staf Ahli Menteri Pekerjaan Umum.

    Latar belakang disusunnya naskah akademik rancangan undang-undang arsitek ini disebutkan bahwa, pembangunan manusia seutuhnya, telah menjadi salah satu tujuan utama bangsa Indonesia. Peran arsitek sebenarnya telah ada sejak zaman pra-sejarah dan telah jauh mewarnai hampir seluruh pembangunan fisik di Negara ini.

    Profesi arsitek sudah selayaknya mendapatkan pengakuan dalam peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang profesi arsitek, untuk mewujudkan hal tersebut telah disusun Naskah Akademik Rancangan Undang-undang tentang Arsitek.

    Dengan dilaksanakannya lokakarya ini, diharapkan dapat memperkaya naskah akademik yang dimaksud. Sehingga dapat menambah masukan yang berarti dalam penyusunannya ke depan.

    Dalam lokakarya ini, hadir juga pakar hukum dari Universitas Indonesia yaitu Prof. Maria Farida sebagai pembahas naskah akademik rancangan undang-undang arsitek tersebut. Selain itu juga hadir Guru Besar Arsitek dari Universitas Indonesia serta undangan dari Direktorat Jenderal Departemen Pekerjaan Umum Pusat, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Bali beserta jajarannya, Perhimpunan Ahli Teknik Indonesia (PATI) yang diwakili oleh Agus Saladin, Nuriman dan Firman, perwakilan dari NTT, NTB dan Sulawesi Selatan.

    Pembahasan isi dari naskah akademik rancangan undang-undang arsitek ini yang disampaikan oleh Prof. Maria Farida menyatakan bahwa, undang-undang biasanya diajukan oleh DPR dan Presiden. Adapun asas pembentukan peraturan perundang-undangan (pasal 5) berisi :

    • Kejelasan tujuan
    • Kelembagaan atau organisasi pembentuk yang tepat
    • Kesesuaian antara jenis dan materi muatan
    • Dapat dilaksanakan
    • Kedayagunaan dan kehasilgunaan
    • Kejelasan rumusan dan,
    • Keterbukaan

    Dari asas pembentukan peraturan perundang-undangan tersebut di atas, apakah semua sudah terlengkapi, masih memerlukan pembahasan yang lebih lanjut walaupun sudah berada di DPR. Salah satu pernyataannya dalam pembahasan tersebut adalah apakah arsitek siap untuk dikriminalkan? Karena bisa jadi dengan adanya rancangan undang-undang ini, akan menjadi polemic dikemudian hari, nanti penyanyi dangdut pun akan buat undang-undang katanya.

    Sedangkan perwakilan dari PATI, Agus Saladin mempertanyakan definisi arsitek untuk profesi itu seperti apa, lalu apakah profesi arsitek yang akan dibuat undang-undang tersebut mencakup kesemua bidang yang ada di UIA atau hanya satu saja seperti yang dilakukan oleh IAI, kemudian beliau juga mempertanyakan sertifikat arsitek yang dibuat kaitannya dengan rancangan undang-undang ini serta sejauh mana batasan bangunan yang dikerjakan oleh arsitek yang dimaksud dalam undang-undang tersebut lanjutnya.

    Dalam pembahasannya yang disampaikan oleh pembawa makalah (Endi dan Bambang, keduanya dari pengurus IAI) tidak secara emplisit menyatakan berdasarkan apa yang ditanyakan dari perwakilan PATI, bahkan mereka menyatakan perlu dirombaknya system pendidikan arsitek di kampus karena hanya terserap 20% di lapangan.

    Sampai dengan ditutupnya lokakarya tersebut, ada beberapa hal yang perlu dipikirkan lagi oleh tim penyusun rancangan undang-undang tersebut, diantaranya :

    • Perlu ditinjau lagi asas pembentukan peraturan perundang-undangan (pasal 5) mengenai penyusunan naskah akademik rancangan undang-undang arsitek tersebut.
    • Perlu juga diperjelas mengenai peran serta masyarakat berkaitan dengan hal tersebut.
    • Mengenai hukum dan peraturan lainnya akan dipelajari lebih lanjut.
    • Perlu diperhatikan asas keterbukaan serta dampaknya terhadap profesi lainnya.